.K e n

* Ten Ichi Ken Dai Ichi

* Ten Ichi Ken Dai Nike

* Ten Ichi Ken Dai Young

* Ten Ichi Ken Dai Zhang

* Ten Ichi Ken Dai Go

* Giwa Ken Dai ichi

Sabar ya…

* Giwa Ken Dai Nike

* Ryu Ken Dai ichi

* Ryu Ken Dai Nike

* Manji Ken

http://theatlo.blogspot.com

12 Comments to “.K e n”

  1. kempo sangat kerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  2. go kempo go kempo gooo

  3. .K e n

    ten chi ken artinya jurus bumi langit, dibagi atas 6 bentuk jurus (ken) yaitu :

    1. Ten Ichi Ken Dai Ichi / ikkei
    2. Ten Ichi Ken Dai Nikkei
    3. Ten Ichi Ken Dai san
    4. Ten Ichi Ken Dai Yon
    5. Ten Ichi Ken Dai Go
    6. Ten Ichi Ken Dai roku

    giwa ken artinya jurus teratai di bagi atas 2 (dua) macam :

    1. Giwa Ken Dai ichi
    2. Giwa Ken Dai Nikkei

    Ryu Ken artinya jurus naga utama, terdiri dari teknik utama yaitu melepaskan ( Nuki Waza)

    * Ryu Ken Dai ichi & Ryu Ken Dai Nike, sekarang cuma satu yang diberlakukan oleh PB Perkemi yaitu Ryu O ken …tanpa dai

    * Manji Ken, ken ini artinya adalah jurus lambang manji (swastika) sekarang dibut dengan Sueng

  4. HAL YANG SANGAT PENTING UNTUK DIPAHAMI

    Hitungan
    Angka yang tercantum di bawah ini digunakan ketika penghitungan selama melakukan gerakan/latihan atau ketika melakukan gerakan dasar/Kihon (kihong) dalam prakteknya, atau ketika penghitungan selama Kata praktek dan ken (king).

    Jepang Cara mengeja Indonesia
    Ichi
    Ni
    San
    Shi
    Go
    Roku
    Shichi
    Hachi
    Ku
    Ju Ich / Its
    Ni
    Sang
    Si
    Go
    Ruk
    Sich / Sits
    Hach / Hats
    Kyu
    Ju Satu
    Dua
    Tiga
    Empat
    Lima
    Enam
    Tujuh
    Delapan
    Sebilan
    Sepuluh
    Informasi Untuk Kenshi
    Berikut adalah definisi dari kata dasar dan istilah umum digunakan di dojo dan penjelasan ketika menggunakannya, untuk definisi/penjelasanb lebih dan arti dari kata-kata dan frasa lihatlah halaman kamus.
    Onegaishimasu (Silakan) – Said Reing sementara, sebelum pelatihan dimulai pada awal pelajaran dimulai dan sebelum latihan dengan mitra.
    Arigato Gozaimashita Terima kasih banyak – Kata-kata ketika malakukan Rei, ketika selesai pelatihan dengan pasangan, pada akhir pelajaran dan setelah menerima instruksi / bantuan dari Sensei atau siswa lainnya.
    Rei Palms bersama dalam salam. – Rei digunakan sebagai sebuah perintah ketika kenshi digabungkan dalam baris sebagai instruksi untuk melakukan tindakan Rei. Perintah yang diberikan oleh orang yang berdiri di depan posisi kanan.
    Naore (tangan diturunkan) – Digunakan sebagai perintah ketika kenshi berkinerja Rei.. Perintah yang diberikan oleh orang yang berdiri di depan di posisi kanan.
    Hajime (Mulai) – Perintah yang diberikan untuk menginstruksikan kenshi harus mulai berlatih.
    Yame Berhenti – Perintah yang diberikan kepada kenshi menginstruksikan untuk menghentikan apa yang mereka lakukan. Perintah harus dipatuhi dengan segera.
    Chosokuu mengontrol pernafasan – ketika diberikan sebagai sebuah perintah kenshi harus bernafas dalam-dalam sementara tubuh melakukan stretching dengan tangan di atas kepala, dan nafas dikeluarkan secara perlahan, secara santai pemanasan/stretch diturunkan secara perlahan dengan diiringi turunnya lengan.
    Kiai Letupan semangat – Memaksa udara membentuk paru-paru, Kiai yang harus dihasilkan dari diafragma (seperti bernyanyi) bukan dari tenggorokan. Kiai digunakan ketika punching atau menendang dan mengubah sikap.
    Shugo berkumpul – diberikan sebagai sebuah perintah untuk berkumpul dalam barisan.
    Seiretsu Line up – Perintah yang diberikan oleh Sensei atau instruktur.
    Kamae Ambil posisi atas – Perintah diberikan misalnya ketika diberitahu untuk mengubah sikap.

    Kenshi – orang yang mempelajari teknik Kempo. Sama halnya dengan karate-karateka, Judo-judoka, Aikido-aikidoka, boxing-boxer, tae kwon do-tae kwon doin, dsb
    Kohai – adik seperguruan atau kenshi yang masuk ke dalam Organisasi Shorinji Kempo / Baladiri Kempo belakangan.
    Senpai (Simpai) – kakak seperguruan atau kenshi yang lebih dulu memasuki organisasi kempo / bela diri shorinji kempo atau (senior).
    Sensei – Guru – biasanya diatas III Dan
    Sihang – Maha Guru
    Randori – nomor kejuaraan yang bersifat kontak fisik atau bisa disebut sebuah pertarungan agar lebih mudah menyebutnya…
    Embu – Peragaan jurus2 atau teknik2 yang dimiliki oleh para kenshi yang diterapkan sesuai dengan tingkat sabuk yang dimiliki dengan penilaian keserasian, … kalo di Karate biasanya disebut dengan Kata
    Wasare – seperti ippon yang biasa kita dengar, artinya ga begitu tahu tapi yang pasti saat serangan kita masuk ke dalam pertahanan musuh itu yang dinamakan wasare dalam pertandingan Kempo.
    Ippon – saat serangan kita benar2 masuk ke dalam pertahanan musuh dan benar sesuai dengan teknik beladiri sampai musuh tidak bisa berdiri lagi untuk melanjutkan pertandingan.
    Batsu – saat penyerang melakukan teknik yang salah dan melukai lawan yang bertahan di areal vital yang sebenarnya dilarang dan melanggar aturan pertandingan, sehingga pihak yang bertahanlah yang menang. Kemenangan yang diperoleh dari pihak yang bertahan disebut “Batsu”.
    Yoshikachi – situasi kemenangan bila dimana kedua pihak tidak bisa memasukkan serangan dan penilaian berdasarkan teknik serta kefektifan serangan serta agresifitas serangan.
    Demi tanah air, demi persaudaraan, demi kemanusiaan

  5. KAMAE DAN BENTUKNYA “

  6. TAI SABAKI

    1. Chidori Irimi : Chidori=burung layang – layang. Chidori ashi=zig zag.Contoh: Mae Chidori Ashi.

    2. Sasikae Irimi : Pindahkan / ajukan kaki belakang ke depan sehingga gamae berubah. Contoh: Hidari Mae Chudan gamae, kaki kanan maju sehingga menjadi migi mae chudan gamae

    3. Furiko : Badan Bergerak ke samping seperti serakan anak lonceng(=yoko furimi)

    4. Fusemi : Menjatuhkan badan ke arah kiri / kanan ( posisi seperti hendak push – up, salah satu kaki agak ditekuk untuk berjaga – jaga agar bebas menendang

    5. Hikimi : Menarik perut ke belakang kaki depan neko ashi tachi

    6. Han Tenshin : Han ( setengah ), tenshin ( menggerakan badan ), posisi kaki belakang seperti ushiro kagi ashi

    7. Gyaku Tenshin : Memindahkan posisi kaki yang semula berada di depan menjadi di belakang, misal: Hidari chudan gamae menjadi migi chudan gamae, talapak kaki kiri seperti ushiro kagi ashi, kaki kanan neko ashi tachi

    8. Yoko Tenshin Kedua kaki bergeser ke kiri atau ke kanan

    9. Hiraki Sagari Bila keadaan kaki kiri di depan, maka tarik mundur kaki kiri sehingga kaki kanan menjadi di depan

    10. Jun Sagari Bila kaki kanan di depan, maka tarik mundur kaki kiri dan segera diikuti kaki kanan

    11. Kaishin Menggerakkan badan seperti gerakan membuka pintu untuk menghindari serangan pukulan lurus( choku zuki ) ke arah kepala/ ulu hati ( jodan/chudan )

    12. Kusshin Merunduk untuk menghindari serangan lawan( posisi agak jongkok namun badan tetap tegak )

    13. Ryu Sui Menggerakkan badan ke samping seperti gerakan air mengalir

    14. San – Shoku Menggerakkan kaki tiga kali seperti pada waza Gyaku Gote

    15. Shorimi Menarik dagu ke belakang, kaki depan neko ashi tachi (dilakukan untuk menghindari serangan jodan zuki )

    16. Han Ten Kan hadap kanan ( migi han ten kan ),2. hadap kiri ( hidari han ten kan )

    17. Zen Ten Kan Balik badan ( misal dari posisi hidari mae chudan gamae menjadi migi mae chudan gamae, kepala menengok ke suatu arah berdasar pd kaki belakang )

    18. Ukemi Menghindari serangan lawan dengan cara : mae ukemi / mae kaiten, ushiro ukemi / ushiro kaiten, yoko kaiten, dai sharin, ooten yori oki agari.

    KARI ASHI
    .
    1. Kyakuto – Kari
    2. Soku – to – Kari
    3. Sokutei Kari
    4. Uchi Sokuto Kari
    5. Ushiro Kakato

  7. KIHON BOGI ( TANGKISAN DASAR )

    1. Ashi Uke
    2. Ghoji Uke
    3. Fumi Dome
    4. Han Zuki Uke
    5. Harai Uke
    6. Hasami Uke
    7. Hiza Uke
    8. Juji Uke ( uwa,shimo,yoko )
    9. Ken Uke
    10. Manji Uke
    11. Nio Uke
    12. Sambo Uke
    13. Shita Uke
    14. Shukui Uke
    15. Shuto Uke
    16. Soto Uke ( Uchi – Soto )
    17. Soto Oshi Uke
    18. Uwa Uke
    19. Uchi Uke
    20. Uchi Age Uke
    21. Uchi Harai Uke
    22. Uchi Oshi Uke
    23. Uchi Otoshi Uke

    GATAME ( KUNCIAN )

    1. Gassho Gatame
    2. Gassho Ura Gatame
    3. Gyakute Gatame
    4. Juji Gatame
    5. Kannuki Gatame
    6. Konoha Gatame
    7. Kumo Garami
    8. Maki Tembin Gatame
    9. Omote Tembin Gatame
    10. Osae Yubi Gatame
    11. Ryu Gatame
    12. Se Koshi Ichiji Gatame
    13. Tate Gasho Gatame
    14. Tate Ichiji Gatame
    15. Tembin Gatame
    16. Ura – Gatame
    17. Ura Tembin Gatame
    18. Yubi Gatame
    19. Yubi Dori Gatame

    TACHI KATA ( SIKAP BERDIRI )

    1. Kihon Tachi
    2. Zen Kutsu Tachi
    3. Ko Kutsu Tachi
    4. Neko Ashi Tachi
    5. Kiba Tachi
    6. Heima Tachi
    7. Fukko Tachi

  8. SEJARAH SINGKAT SHORINJI KEMPO

    I. NAKANAO MICHIOMI
    Nakanao Michiomi dilahirkan di suatu Desa yang terletak di suatu lereng gunung ke di daerah administrasi OKUYAMA tahun 1911. Anak sulung dari tiga bersaudara ayahnya adalah seorang pegawai biasa. Michiomi kecil ditinggal ayahnya ketika berumur 8 (Delapan) tahun. Sehingga ia harus mengasuh dua adik perempuannya ketika ditinggal ibunya untuk bekerja menggantikan ayahnya. Akhirnya dua saudaranya di asuh oleh keluarga dari ibu, sedangkan Michiomi pergi ke Manchuria untuk tinggal bersama kakek dari ayahnya. Kakek Nakanao Michiomi adalah anggota KOKYURYUKAI (PERKUMPULAN RAHASIA ULAR NAGA HITAM). Dan ia juga seorang yang ahli dalam seni beladiri (Budo). Selama 7 (tujuh) tahun kakeknya mengajarkan permainan pedang dan seni permainan tombak, serta perkelahian tanpa senjata, JUJUTSU.
    Bulan Mei tahun 1926 Ibu Nakanao Michiomi meninggal dunia dan iapun kembali ke Jepang dan pada tahun yang sama juga saudarinya juga menyusul ibunya, setahun kemudian 1927, saudara satunya lagi juga meninggal dunia. Bukan suatu kebetulah juga ketika akan kembali ke Cina Kakeknya juga meninggal di tahun yang sama. Kini Michiomi tinggal sebatang kara dan ia pun pergi ke Tokyo, yang pada waktu itu terjadi depresi ekonomi setelah Perang Dunia I. Perekomonian tidak teratur dan angka pengangguran tinggi.

    II. AGEN INTELEGENT
    Diusia ke 17 tahun, Januari 1928, Nakanao Michiomi mendaftarkan diri masuk angkatan perang dan ditempatkan di Manchuria sebagai Special Expeditionary Force, agen pasukan khusus. Ditugaskan pada sekolah TAOIST yang dikepalai oleh CHEN LIANG. Seorang anggota rahasia Perkumpulan Zaijia Li dan Kepala Perkumpulan Teratai Putih (Byakuren dalam Bahasa Jepang), Sekolah Tinju Shaolin Utara (Shorin). Sebagai murid Chen Liang, Nakanao Michiomi mempelajari Kempo (Quan Fa-Tinju) dan juga pertama kali Nakanao Michiomi berkenalan dengan pengajaran Budha. Pengaruh Budha (Chan-Zen) sangat kental dengan beladiri Cina. Manchuria juga yang mengorganisir waktu itu perkumpulan rahasia. Tahun 1931 Nakanao Michiomi terkena Penyakit TIPUS dan dikembalikan ke Jepang, Bergabung dengan Kesatuan Anggkatan Udara I. Ketika latihan terbang malam, ia terkena Serangan Jantung dan harus mendapatkan perawatan hingga 6 (enam) bulan. Para Dokter memperkirakan waktu hidupnya 1 (satu) sampai 3 (tiga) tahun.

    Bulan Oktober 1931, Nakanao Michiomi kembali ke Manchuria dengan Chen Liang, ditugaskan sebagai agen intelijen. Karena ia berfikir tidak punya umur panjang Nakanao Michiomi memilih untuk melakukan berbagai macam misi. Chen Liang bertanya padanya “Mengapa ia menginginkan kematian lebih cepat” Nakanao Michiomi menceritakan apa yang telah dikatakan Dokter kepadanya waktu itu. Chen Liang berkata “Siapa yang memutuskan hidupmu hanya cuma setahun” Nasib adalah sesuatu yang Gaib, diluar Ken adalah kematian. Kamu tidak akan mati dengan seketika, kamu harus berjuang untuk hidup dengan segala usaha. Aku akan merawatmu mulai hari ini, Nakanao Michiomi menjalani perawatan dengan Pijatan dan Teknik Akuppressur, dalam bahasa Jepang disebut “Kemyaku Iho”. Dalam dalam istilah Shorinji Kempo sekarang disebut dengan SEIHO (SEITAI JUTSU).

    III. SHAOLIN DAN DOSHIN SO
    Dalam melaksanakan misinya, Nakanao Michiomi menyamar sebagai gelandangan, menemani Chen Liang. Pada tahun 1932, mereka berada di Beijing, dimana gurunya Chen Liang, WEN TAIZONG tinggal disana. Wen Taizong waktu itu adalah Guru Besar dari Sekolah Shaolin Utara “Yihemen Quan” atau “Giwamon Ken” dalam bahasa Jepang. Pada waktu masih muda, Wen Taizong adalah biarawan Kuil Shaoilin dan akhirnya menjadi Guru Besar menggantikan HUANG LONGBAI, lalu Wen Taizong memperkenalkan Nakanao Michiomi pada Huang Longbai dan akhirnya mengizinkan menjadi muridnya secara langsung. Huang Longbai mengajarkan Nakanao Michiomi 36 (tiga puluh enam) macam Teknik Kuncian dan Teknik Gulat Naga, yang disebut LONGXI ZHUJI. Ia juga mempelajari Lemparan WA HUA QUAN (GOKA KEN-TINJU LIMA BUNGA) yang akhirnya menjadi dasar Prinsip Lembut dan Keras menjadi satu (GOJU ITTAI).
    Setelah mempelajari beladiri dari Kakeknya (permainan pedang dan seni permainan tombak, serta perkelahian tanpa senjata, JUJUTSU), kemudian mengusai apa yang telah diajarkan Chen Liang (“Kempo”Quan Fa-Tinju), Nakanao Michiomi menerima semua pelajaran dengan cepat. Wen Taizong berfikir telah “Menemukan seorang yang cukup cakap”(Selama 4 tahun berguru dengan Wen Taizong telah menguasai semua teknik beladiri yang diajarkannya) . Di musim gugur tahun 1936, Wen Taizong dan Nakanao Michiomi menghadiri upacara di Kuil Shaolin, Nakanao Michiomi di angkat menjadi GURU BESAR SHAOLIN KE 21 dari YIHEMEN QUAN. Wen Taizong menamai Nakanao Michiomi “DOSHIN SO” yang berarti “YANG MEMBANTU JALAN MENUJU REGILIUS”, dan nama tersebut dipakai sepanjang sisa hidupnya.

    Sejak pertama kali berada di Kuil Shaolin, Doshin So amat terkesan dengan Lukisan di dinding yang melukiskan Orang India dan Biarawan Cina berlatih dengan menyenangkan dan dilakukan bersama-sama. Metode ini berlawanan dengan pelatihan yang yang selama ini dia lakukan dan ia mengembangkan gagasan, dimana untuk berlatih harus ada kerja sama dengan pasangannya, untuk kepentingan berdua. Dalam bahasa Jepang, konsep ini dinyatakan sebagai “Otagai Renshu” (berlatih untuk sama lain) atau “Jita Kyuraku” (menikmati dengan orang lain).

    IV. SOVIET MENYERBU MANCHURIA
    Agustus 1945, Soviet menyerbu Manchuria. Angkatan perang Jepang melarikan diri dan meninggalkan anak-anak dan wanita di Manchuria. Doshin So merasakan perilaku yang kurang berkenan untuk ikut meninggalkan Manchuria. Akhirnya ia mengalami dua masa pendudukan di Manchuria, yaitu masa Jepang dan masa Soviet. Ia melihat pelaku dari pemenang perang waktu itu, bagaimana cara supaya bisa mempertahankan kedudukannya, tak lain dengan menekan kaum lemah. Dan ia pun melihat bagaimana keberanian seseorang untuk melindungi yang lemah dengan bahkan mengorbankan diri mereka. Disinilah asal mulanya kata kalimat dari “KASIH SAYANG TANPA KEKUATAN ADALAH KELEMAHAN, KEKUATAN TANPA KASIH SAYANG ADALAH KEZALIMAN”. Doshin So mengembangkan pemahamannya, bahwa kualitas seseorang bukan dari kebangsaan mereka tetapi berasal dari individu sendiri.

    Ia berkata “Dimasa damai, orang-orang dapat menyembunyikan karakter asli mereka, mereka dapat menghias karakter masing-masing, tetapi ketika kekacauan datang, akan terlihat karakter aslinya, tidak lagi terpengaruh oleh hukum yang ada.

    Aku mempelajari hal ini dari pengalaman dan penderitaan. Jika kita ingin mencapai kedamaian, tidak ada jalan/cara lain kecuali menegakkan kesadaran hukum yang kuat untuk semua, tidak memihak siapapun.
    Aku merasakan hal ini ketika berada di Manchuria. Sehingga jika aku dapat kembali ke Jepang, aku akan membuka “Sekolah Swasta untuk membangun Ikatan dan Jiwa Keberanian, serta kepercayaan di hati orang muda”

    V. DOSHIN SO KE JEPANG
    Setelah peperangan selesai, orang-orang Jepang yang berada di Cina pulang ke Jepang, Doshin So tetap tinggal di Sheyang bersama teman-temannya di masyarakat Cina. Hubungan dengan orang-orang tersebut memungkinkan dia kembali ke Jepang lebih cepat. Teman-temanya di Cina mencoba untuk membujuk agar dia tetap tinggal di dalam negeri Cina, dengan alasan Jepang telah dihancurkan Sekutu. Kepada teman-temannya Doshin So mengatakan bahwa mungkin Jepang telah hilang, tetapi ia belum pernah hilang dan masih sebagai orang Jepang. Ia ingin kembali ke Jepang untuk membantu, membangun kembali Jepang, Doshin So mendarat di SASEBO daerah di NAGASAKI pada tahun 1946. Sepanjang perjalanan pulang tidak jarang ia menggunakan teknik Kempo untuk menghindari gangguan dari penumpang lain.

    Akhirnya Doshin So ke kota kelahiran Ibunya dan menginap di Kemenakannya di Osaka. Ia memulai hidup baru dengan menjalankan bisnis produk bahan kimia bersama temannya dari Cina. Dari sini Doshin So dapat bertahan hidup dan mendapatkan kenyamanan. Pada waktu yang sama, Doshin So melihat penderitaan yang diakibatkan oleh perang, insflasi, kemiskinan, pengangguran, memicu orang melanggar hukum dan orang tidak mau mendengarkan suara hati untuk orang lain. Ia ditawari beberapa lahan di TODATSU, suatu daerah pedesaan dan pelabuhan di Pulau SHIKOKU, Daerah Administrasi KAGAWA. dan akhirnya telah menjadi Pusat untuk Shorinji Kempo.

    VI. MENDIRIKAN SHORINJI KEMPO
    Doshin So memulai dengan membangun aula kecil dan memberikan pengajaran dan filosofi pada Oktober 1947, pada awalnya ia tidak begitu diterima, karena dianggap orang asing di daerah tersebut dan juga pengajarannya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah ada. Yang datang untuk mendengar hanya sedikit, tapi yang kembali lagi lebih sedikit lagi.

    Ketika Doshin So sedang mempertimbangkan bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan filosofinya, dalam suatu mimpinya ia bertemu dengan Bodhidharma, berjenggot dan berpakaian seperti biarawan Budha, berjalan dengan cepat dihadapannya Doshin So, ia berusahan berbicara pada Bodhidharma tetapi tidak dapat mendengarnya, Bodhidharma hanya menunjukkan satu arah dari tangannya, Doshin So berusaha memahami mimpinya. Akhirnya ia memutuskan untuk memberikan pengajaran Zen Bidhisme, seperti ia belajar di Kuil Shaolin. Yang kemudian ia gabungkan dengan filosofi yang pernah ia terima. Bukan pengajaran yang berhubungan dengan peperangan untuk memenangkan lawan, tetapi lebih kepada pelatihan jasmani dan peningkatan rohani untuk kemajuan bersama. Doshin So akhirnya mengorganisir kembali teknik-teknik yang telah ia pelajari sebelumnya dan menyelaraskan dengan pemahamannya akan Zen Budhisme.

    Kota Todatsu sedang dalam kekacauan, banyak penjahat dan pasar gelap setelah perang berakhir. Setelah mengorganisir kembali teknik Kempo dengan praktis agar mudah diterima oleh muridnya Doshin So mengajarkan teknik Kempo dengan cepat, kepada murid-muridnya. Dan bersama muridnya turun ke jalan untuk menentang penjahat yang ada di jalanan, karena ia berfikir dengan penggunaan teknik yang dikuasai untuk kebaikan hal itu adalah benar. Bersama dengan Polisi setempat Doshin So berhasil mengamankan kota Todatsu.
    Untuk memastikan muridnya tidak kembali turun ke jalan, mereka harus bekerja terlebih dahulu. Doshin So mengajarkan teknik beladiri dengan melatih fisik dalam format Zen Budhisme. Akhirnya makin banyak murid baru yang bergabung dengan pelatihan tersebut.

    Ditahun 1950, Doshin So membentuk perkumpulan yang bersifat regilius, tahun 1951 resmi menjadi organisasi “Kongo Zen Sohanzan Shorinji” Dan membentuk Sekolah ZENRIN GAKUEN (AKADEMI HUTAN ZEN) sebagai awal dari NIHON SHORINJI BUDO SENMON GAKKO (AKADEMI SHORINJI KEMPO JEPANG) yang sering juga disebut BUSEN (BUDO SENMON).

    “Sebagian dari diri kalian adalah untuk orang lain”, adalah satu pengajaran di dalam Busen. Masing-masing individu harus berusaha hidup layak. Semboyan Shorinji Kempo dan Kongo Zen yang dikenal sampai hari ini “Pikir separuh untuk kebahagiaan milik mu, setengah untuk kebahagiaan orang lain” (Nakaba wa jiko, Nakaba wa jiko shiawase wo, Nakaba wa hito, Nakaba wa hito Shiaweso wo). Selama tahun 1950 an sering mengadakan demonstrasi publik untuk publik, seperti Embu Taikai, sehingga mempercepat organisasi. Tahun 1960 Doshin So muncul di televisi nasional, sehingga semakin meningkat ketenaran Shorinji Kempo pada publik. Di tahun 1963 membentuk “Shadan Hojin Shorinji Kempo Renmei” di Kuil Todatsu, untuk mempelajari Budhisme yang dipelajari selama di Kuil Shaolin, yaitu mempelajari penyelesaian suatu sangketa dengan cara penengahan lewat pengajaran Budha dan mempelajari teknik beladiri.

    Sesuai dengan perkembangan zaman dan ketenaran teknik-teknik Shorinji Kempo yang heroik di masa Perang Dunia I dan II dimana Guru hingga murid-muridnya yang terlibat langsung dalam pengamanan Kota Todatsu Paska Perang Dunia II, banyak orang-orang yang bukan bangsa Jepang ingin mempelajari teknik beladiri Shorinji Kempo, murid-murid yang ingin mempelajari teknik beladiri tidak diharus menjadi Zen Budhisme.

    Tujuan dari agama terutama adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, sedangkan mempelajari tentang agama adalah keyakinan orang tentang siapa Tuhannya.

    FILOSOFI HIDUP DARI AJARAN SHORINJI KEMPO
    1. Sebagian dari diri kalian adalah untuk orang lain

    2. Pikir separuh untuk kebahagiaan milik mu, setengah untuk kebahagiaan orang lain

    3. Dimasa damai, orang-orang dapat menyembunyikan karakter asli mereka, mereka dapat menghias karakter masing-masing, tetapi ketika kekacauan datang, akan terlihat karakter aslinya, tidak lagi terpengaruh oleh hukum yang ada.

    4. KASIH SAYANG TANPA KEKUATAN ADALAH KELEMAHAN, KEKUATAN TANPA KASIH SAYANG ADALAH KEZALIMAN

    5. Nasib adalah sesuatu yang Gaib

    6. DOSHIN SO yang berarti YANG MEMBANTU JALAN MENUJU REGILIUS

  9. SHORINJI KEMPO DAN DOKTRIN

    Kempo, olahraga beladiri sejati yang kurang promosi, adalah sebuah kalimat dalam judul tulisan olahraga salah satu media cetak nasional ( Kompas, Rabu, 19 Januari 2005 ) sangat menggelitik untuk dikaji, karena memang masih banyak masyarakat indonesia yang kurang paham terhadap beladiri kempo. Ketidakpopuleran kempo tidak terlepas dari filosofi yang dianutnya, sebagai ilmu beladiri semata yang sarat dengan welas asih. Namun ketidakpopuleran tersebut tidak berarti kempo sulit dipahami.
    Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman. Begitulah bunyi doktrin shorinji kempo, sebuah doktrin yang menjadi ruh sekaligus inti ajaran bagi para kenshi yang mendalami seni beladiri shorinji kempo. Seni beladiri yang bercorak defensif, dilarang menyerang sebelum diserang.

    Kendati jurus-jurusnya bisa mematikan lawan, shorinji kempo selalu menekankan, perangilah dirimu sebelum memerangi orang lain. Kempo adalah keseimbangan antara kekuatan dan moral. Jika tidak seimbang, hanya kekuatan saja kenshi akan jadi preman, tetapi jika hanya moral saja akan menjadi suatu kelemahan. Oleh karena itu belajar kempo harus memadukan keduanya untuk dikuasai. Secara teknis, gerakan kempo sarat dengan filosofi beladiri yang harus dipahami dengan cermat dan hal ini akan sangat membantu memudahkan mempelajarinya.

    Shorinji Kempo dilandasi prinsip BUDO, yaitu secara harfiah menghentikan pertarungan, dalam arti sebenarnya adalah sebuah seni beladiri dimaksudkan bukan untuk berkelahi, berperang atau membunuh manusia, tetapi dimaksudkan untuk menghentikan konflik antar manusia dan membentuk sebuah budaya damai, dalam hal ini Budo memerankan peran moral yang lebih baik dalam masyarakat dan bukan sebagai alat pemusnah. Dalam hal ini tujuan berlatih kempo merupakan modal dasar pembangunan moral dalam lingkungan.

  10. MEMAHAMI FALSAFAH SHORINJI KEMPO

    Tentunya kita para kenshi sudah sering membahas tentang falsafah ShorinjiKempo yang enam itu. Sebagai falsafah, akan sangat menarik bila dibahas secara mendalam karena tiap orang punya pemahaman dan penerapan masing-masing bagi yang menerapkan tentunya. Beberapa kenshi yang saya kenal menganggap kempo sebagai ‘alat bertarung’ atau ‘sarana berprestasi’ yang menurut saya sangat tidak dibenarkan.

    Bagi pembaca nonkenshi yang belum tahu falsafah ShorinjiKempo silakan mengikuti terus artikel ini. Sebagai pengantar, falsafah ShorinjiKempo setidaknya ada enam poin. Ken Zen Ichinyo (tubuh dan pikiran sebagai satu kesatuan), Riki Ai Funi (Kekuatan dan kasih sayang bukanlah dua hal yang terpisah), Shushu Koju (Menghindar diutamakan, menyerang
    menyesuaikan), fusatsu katsujin (tidak merusak melainkan menghidupkan/melindungi), Go Ju Ittai (keras dan lunak bersama-sama), dan Kumite Shutai (Latihan berpasangan diutamakan). Masing-masing akan kita bahas satu per satu.
    (PART_1)_Ken Zen Ichinyo. (Latihan dan meditasi bersama-sama)
    Secara harfiah, Ken berarti tubuh. Zen berarti hati atau pikiran. Ichinyo berasal dari kata ichi yang artinya satu. Secara bebas, sering di artikan sebagai latihan dan meditasi bersamaan. Menurut saya, seharusnya Ken Zen Ichinyo ini diartikan secara lebih luas yaitu tubuh dan hati merupakan satu kesatuan.
    Ketika tubuh kita sakit, kita kehilangan semangat melakukan sesuatu. Setidaknya semangat kita tidak akan setinggi ketika kita sehat. Sebaliknya ketika mental kita jatuh, sedih, marah, senang dan berbagai macam perasaan lainnya, maka akan jelas terlihat dalam fisik kita. Dua hal ini merupakan bukti nyata keterkaitan antara tubuh dan pikiran.
    Dalam latihan sudah cukup jelas bahwa setiap kali latihan kita akan melalui satu sesi zazen/semedi. Setelah itu barulah kita berlatih teknik mulai dari kihon, ken, dan kemudian waza. Demikian itu adalah salah satu penerapan dari ken zen ichinyo. Lebih jauh lagi dapat kita pahami bahwa sebenarnya yang diinginkan dari ken zen ichinyo ini adalah dalam bersemedi/zazen, kita sebenarnya juga melatih fisik kita dengan pernafasan. Sebaliknya ketika kita berlatih teknik, kita juga melatih hati dan pikiran kita untuk fokus, percaya diri, dan sepenuhnya menyadari dan memikirkan apa yang kita lakukan. Pernah juga saya membaca bahwa latihan fisik adalah meditasi yang bergerak (moving meditation).
    Dalam keseharian kita, seringkali kita menjalankan rutinitas yang tanpa kita sadari kita telah melakukannya. Sekolah, sholat, bekerja, dan lain sebagainya… Sering kita melakukannya tanpa sepenuhnya menyadari apa yang kita lakukan.
    Seberapa persen kita menghayati (khusyu’) sholat kita (bagi kenshi muslim)? Sudah cukupkah untuk mempengaruhi perilaku kita sehari-hari? Akhirnya ketika kita melakukan kejahatan Islamlah yang disalahkan padahal kita yang kurang menghayati ajarannya.
    Berapa persen pelajaran dari guru/dosen yang kita benar-benar dengarkan dan pahami? Bertanyakah kita bila tidak paham? Akhirnya ketika waktu ujian tiba kita mencontek dari buku atau teman.
    Berapa banyak dari pekerjaan kita yang kita lakukan dengan sepenuh hati? Ataukah lebih banyak kita lakukan karena takut atasan? Akhirnya kita mengerjakannya dengan asal-asalan karena dikejar deadline.
    Jadi inilah yang diminta oleh ShorinjiKempo dengan Ken Zen Ichinyo. Kita dituntut untuk memahami sepenuhnya apa yang kita lakukan. Bukan hanya mengerjakan sesuatu semata-mata karena rutinitas atau – lebih buruk lagi – mengejar kesenangan atau kepentingan pribadi.
    Sebaliknya, kita juga harus melakukan apa yang kita rasakan atau pikirkan. Saya pribadi mengakui sangat kurang dalam hal ini. Seringkali saya menyadari kesalahan saya dan memikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Tapi tidak sesering saya melaksanakannya. Akhirnya hanya berhenti pada tataran pemikiran dan tidak pernah terwujud dalam dunia nyata. Kalau menurut falsafah Ken Zen Ichinyo, hal ini tidak dapat dibenarkan.
    Dalam suatu kesempatan, Kaiso pernah mengatakan, “Iman dan kepercayaan yang tidak terwujud dalam suatu tindakan tidak akan ada maknanya. Jika kamu berpikir bahwa sesuatu adalah baik maka lakukanlah. Jika kamu berpikir bahwa sesuatu adalah buruk maka jangan kau lakukan.” Pada kesempatan lain beliau juga pernah mengatakan, “Jika kamu hanya memikirkan atau merasakan sesuatu, maka itu tidaklah cukup. Jika itu tidak muncul dalam tindakanmu, maka itu tidak ada artinya. Tapi ketika kamu melaksanakannya, ketika itu pula pikiran telah berubah menjadi kekuatan.”
    Pikirkan apa yang kau lakukan, lakukan apa yang kau pikirkan itulah ken zen ichinyo.
    (Part_2)_Riki Ai Funi (Keharmonisan kekuatan dan kasih sayang)
    Secara harfiah, riki artinya kekuatan. Ai artinya cinta (ingat tato di dahi gaara tokoh komik naruto). Sedangkan funi terdiri dari dua kata fu yang artinya tidak/bukan dan ni yang artinya dua. Jadi bisa dibilang riki ai funi menyatakan bahwa kekuatan dan kasih sayang bukanlah dua hal yang terpisah. Atau dalam tokuhon diartikan dengan keharmonisan kekuatan dan cinta.
    Kasih sayang dan kekuatan… dua hal yang nampaknya sangat bertolak belakang. Tapi sebenarnya – seperti yang sering Sensei ajarkan pada kami– ibarat mata koin. Dua-duanya harus hadir dalam tiap pribadi kenshi. Jika salah satu tidak ada maka akan terjadi ketidakseimbangan, ketidaksempurnaan.
    Poin ini sangat berkaitan dengan poin sebelumnya. Pada poin sebelumnya kita telah ketahui perkataan So Doshin, “Jika kamu hanya memikirkan atau merasakan sesuatu, maka itu tidaklah cukup…” untuk mewujudkannya ke dalam suatu tindakan, sering kali kita membutuhkan kekuatan. Contohnya ketika kita melihat seorang teman dipalak orang di jalan. Pastilah rasa kasih sayang kita mendorong kita untuk bertindak. Tapi untuk bertindak kita membutuhkan kekuatan.
    Sebaliknya kekuatan yang tidak disertai rasa kasih sayang dan cinta akan membuat seseorang “keblinger” dan akhirnya terjerumus ke dalam kehinaan. Contoh konkritnya bisa kita lihat pada preman-preman di jalanan yang merasa dirinya kuat sehingga berani menodong orang. Ini disebabkan oleh ketiadaan rasa kasih sayang dalam hati mereka.
    Kekuatan ini dapat kita pahami secara luas. Tidak terbatas pada kekuatan fisik saja. Kecerdasan, anak buah, kekayaan, kehormatan, jabatan, pengaruh, dan lain sebagainya. Dengan demikian segala bentuk kekuatan yang kita miliki harus senantiasa kita sertai dengan cinta dan kasih sayang dalam menggunakannya. Sebaliknya dalam mewujudkan cinta dan kasih sayang kita terhadap orang lain kita senantiasa dituntut memiliki kekuatan dalam berbagai bentuknya sesuai dengan tindakan yang harus kita lakukan untuk mewujudkannya. Kalau tidak, sebagaimana telah saya paparkan sebelumnya, akan terjadi ketidakseimbangan.
    Dahulu, ShorinjiKempo menggunakan Manji sebagai lambang. Manji (dalam bahasa sansekerta disebut swastika) merupakan lambang dari Riki Ai Funi. Arti dari simbol ini dari luar/depan kita akan mendapatkan manji yang menghadap kiri (omote manji), simbol kasih sayang dan cinta. Tapi bila kita balik, kita lihat dari dalam, akan kita dapatkan manji yang menghadap ke kanan (ura manji), simbol kekuatan dan kecerdasan. Ura manji ini mirip dengan simbol yang dipakai Hitler sebagai lambang Nazi.
    Jelas sekali bahwa seorang kenshi dituntut untuk memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi sekaligus juga memiliki kekuatan dalam berbagai bentuknya. Dengan demikian setiap kenshi akan dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya. nakaba wa jiko no shiawase wo, nakaba wa hito no shiawase wo. Half for another, and half for your own happiness. (doshin so)

    (Part_3)Shushu Koju
    Shu yang pertama dan yang kedua memiliki tulisan yang berbeda. Shu yang pertama berarti bertahan. Shu yang kedua berarti diutamakan (tulisannya sama dengan shu pada kumite shutai = berpasangan sangat diutamakan). Ko berarti menyerang (kogi=teknik menyerang). Ju berarti menyesuaikan.
    Falsafah ini tampak jelas pada gerakan-gerakan ShorinjiKempo. Hampir semua gerakan dan waza (jurus) yang didapati di ShorinjiKempo diawali dengan gerakan menghindar atau menangkis kemudian diikuti dengan tangkisan baru kemudian serangan balasan. Dari gerakan-gerakan ini nampak jelas bahwa kita tidak dibenarkan menyerang dahulu sebelum ada penyebab.
    Pada suatu kesempatan, saya pernah bertanya pada Sensei tentang Shushu Koju. “Bagaimana dengan ude juji, Sensei? Bukankah dalam jurus itu kita menyerang terlebih dahulu?” demikian pertanyaan saya. Sensei mengatakan bahwa itu shushu koju bukan berarti kita tidak boleh menyerang terlebih dahulu dalam perkelahian. Shushu Koju lebih cenderung kepada falsafah. Maksudnya adalah kita tidak dibenarkan mengadakan konfrontasi dengan orang atau pihak lain bila pihak lain tersebut tidak memulai konfrontasi dengan kita. Sedangkan dalam perkelahian, selama ada kesempatan untuk menyerang, kenapa tidak kita gunakan? Selain itu, bila terjadi suatu perkelahian sudah pasti sebelumnya telah terjadi suatu permasalahan. Ketika permasalahan ini tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara nonkekerasan, barulah kita boleh menggunakan teknik bela diri kita.
    Tapi bagaimanapun juga, dalam prakteknya, menunggu serangan lawan sering kali lebih menguntungkan daripada bila kita menyerang terlebih dahulu. Ketika lawan menyerang, sebagian besar pikiran dan hatinya akan terkonsentrasi pada serangan. Selain itu ketika seorang dalam posisi menyerang, pertahanan dia akan terbuka. Pada saat inilah kita memiliki kesempatan untuk meluncurkan serangan balasan. Inilah kenapa sebagian besar (tidak semua) jurus ShorinjiKempo dimulai dengan elakan dan tangkisan. Dengan demikian shushu koju selain memiliki dasar etis juga memiliki dasar teknis.
    Shushu Koju dapat pula kita artikan demikian; dalam bertahan ada serangan dan dalam menyerang ada pertahanan. Artinya, ketika kita dalam posisi bertahan (menghindar/menangkis serangan lawan), kita harus dalam posisi yang memudahkan kita untuk melancarkan serangan balasan. Sebaliknya ketika kita menyerang lawan, kita harus dalam posisi yang memudahkan kita untuk mengelak/menangkis serangan balasan lawan. Demikian yang pernah sensei sampaikan pada saya.
    Secara luas, Shushu Koju memiliki makna bahwa tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan serangan balasan. Misalnya kita melakukan kesalahan kepada salah seorang teman kita. Marahlah si teman ini dan dia sangat ingin menghajar kita. Karena kita menyadari bahwa kita salah, kita menemuinya secara baik-baik dan minta maaf kepadanya. Luluhlah hati teman yang marah ini dan mengurungkan niatnya untuk menghajar kita. Dengan demikian berarti kita telah menyelesaikan masalah hanya dengan “bertahan”. Kita tidak perlu melakukan perlawanan balik. Bahkan ketika kita tidak melakukan kesalahan dan ada seseorang yang memiliki niat jahat kepada kita, ShorinjiKempo menuntut kita untuk mendahulukan cara-cara nonagresif seperti berunding, berkompromi, dan lain-lain.
    Pada contoh di atas, dengan meminta maaf kita telah menjaga hubungan baik dengan teman kita. Seandainya kita tidak mau meminta maaf, besar kemungkinan hubungan baik kita dengan teman kita akan rusak. Kita akan kehilangan seorang teman. Sebaliknya bagi yang memaafkan juga akan sama. Kalau si teman tidak mau memaafkan, pastilah kita akan dongkol. “Sudah dimintai maaf baik-baik, malah marah-marah!” kata kita dalam hati.
    Shushu Koju mencerminkan bahwa dalam ShorinjiKempo kita tidak mencari menang atau kalah. Terkadang dengan mengalah sebenarnya kita telah memenangkan sesuatu yang lebih berharga.
    Namun jangan lupa bahwa ada juga keadaan-keadaan dimana kita harus menyerang. Yaitu ketika harga diri dan kehormatan kita direndahkan. Ketika kita harus bertindak melawan kelaliman. Ketika jalan-jalan damai sudah mencapai kebuntuan. Karena itulah ada kata-kata “koju”.
    Falsafah ini berarti bahwa kenshi harus memiliki kebijakan kapan dia bisa dan boleh menyerang. Akhirnya, kembali kepada pribadi masing-masing.
    (Part_4)_Fusatsu katsujin

    Fusatsu katsujin secara harafiah berarti “Bukan membunuh tetapi membangkitkan/menghidupkan”. Ada versi lain yang menyebutkan bahwa ciri khusus keempat dari ShorinjiKempo adalah Fusatsu Fugai yang artinya “Tidak membunuh dan tidak menyakiti”. Dari kedua versi di atas, saya lebih sering menemui yang pertama (fusatsu katsujin) daripada yang kedua. Yang kedua hanya saya dapati dari senpai-senpai di dojo dan buku gakka terbitan PB perkemi. Secara pribadi, saya juga lebih setuju dengan yang pertama karena jelas bahwa teknik kempo tidak mungkin dilancarkan tanpa menimbulkan rasa sakit terhadap lawan. Setiap kali kita kena zuki (pukulan) dari senpai, atau merasakan kuncian seperti gyaku gote, kiri gote, dll. sudah pasti kita merasa sakit. Karena itu saya kurang setuju dengan yang kedua (fusatsu fugai).

    Dari redaksionalnya jelas bahwa teknik yang diajarkan dalam ShorinjiKempo tidak boleh digunakan untuk membunuh/merusak tubuh lawan. Sebaliknya, ShorinjiKempo menuntut kita untuk membangkitkan/menghidupkan. Membangkitkan di sini artinya melindungi kehidupan yang ada.

    Falsafah ini kemungkinan besar dilatarbelakangi oleh keadaan yang serba kacau setelah perang dunia kedua. ShorinjiKempo didirikan dengan tujuan mengembangkan individu-individu sehingga tercipta masyarakat yang kaya baik secara materi maupun spiritual (Tokuhon, Bab I, Bagian 3, Motivasi dan tujuan diciptakannya ShorinjiKempo). Waktu itu Jepang kalah perang yang berdampak pada tatanan ekonomi dan sosial di masyarakat. Saat itu bisa dibilang orang yang benar adalah orang yang kuat. Perampokan, penindasan golongan, arogansi dan berbagai bentuk kekerasan sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Jepang dan sudah biasa dilakukan secara terng-terangan. Berangkat dari keadaan seperti itulah Kaiso mencanangkan untuk mendirikan ShorinjiKempo.

    Melihat latar belakang didirikannya ShorinjiKempo, nampak jelas bahwa Kaiso menginginkan kenshi-kenshi harus memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Akhirnya kita kembali lagi ke falsafah yang kedua, Riki Ai Funi. Dimana untuk mewujudkan kasih sayang kita dibutuhkan kekuatan.

    ShorinjiKempo penuh dengan teknik-teknik melumpuhkan lawan. Namun tujuan sebenarnya dari teknik-teknik tersebut bukanlah merusak tubuh lawan kita melainkan menghilangkan keinginan jahat lawan kita. Ketika keinginan lawan bisa kita halau hanya dengan omongan atau kiai (teriakan), tidak perlu lagi kita berbuat lebih jauh. Tentang hal ini saya pernah mengalami kejadian yang menarik. Saya akan ceritakan dalam posting yang lain.

    Dalam pengembangannya, kekuatan bukan hanya kelihaian kita menggunakan teknik-teknik bela diri Kempo. Kekuatan dapat berupa kekayaan, jabatan, kecerdasan, pengaruh, dan lain sebagainya (lihat posting sebelumnya). Kita jelas dilarang menggunakan kekuatan kita untuk menyakiti atau mencelakakan orang lain. Sebaliknya kita diharuskan memanfaatkan kekuatan yang kita miliki untuk “menghidupkan” orang lain.

    Lebih jauh lagi saya mencoba memahami arti dari fusatsu katsujin ini. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa penggunaan kekuatan, apapun bentuknya, harus didasarkan pada semangat melindungi (baca: membantu) orang lain. Bukan pada keinginan pribadi. Ketika kita mendasarkan suatu tindakan, terutama menyangkut penggunaan kekuatan dalam berbagai macam bentuknya, atas kepentingan pribadi, maka hasilnya tidak akan seindah bila kita mendasarkannya atas kepentingan bersama.

    Contoh sederhana dan konkritnya adalah salah satu contoh yang pernah Sensei saya sampaikan kepada saya. “Ada dua penjual bakso.” Kata beliau. “Yang satu kenshi, yang lain bukan kenshi. Walaupun bakso buatan saudara kita kenshi ini tidak seenak yang satunya, lebih baik kamu beli dari saudaramu sesama kenshi; sama-sama kamu beli bakso.” “Karena dengan demikian kamu sudah menjaga perasaan saudaramu sesama kenshi. Selain itu kamu sudah membantu dia dengan memberi dia pemasukan tambahan.” Lanjut beliau. Membeli adalah salah satu bentuk penggunaan kekuatan. Dalam hal ini, kekuatan yang kita bicarakan berbentuk harta. Kalau kita mendasarkan tindakan membeli ini atas kemauan pribadi, tentulah kita akan membeli bakso yang lebih enak. Tapi akibatnya, kemungkinan kita akan menyakiti perasaan saudara kita.

    Kesimpulannya, seorang kenshi harus selalu memikirkan segala apa yang akan dia perbuat sebelum bertindak. Apapun yang dia perbuat, tidak boleh dia merugikan orang lain apalagi sesama kenshi. Atau bisa dibilang, kenshi sejati tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Kalaupun di luar tampak merugikan orang lain, pasti ada tujuan di balik perbuatannya yang telah dipertimbangkannya sebelum bertindak.
    (Part_5)_Kumite Shutai
    Karakteristik yang lain dari Shorinji Kempo adalah Kumite Shutai. Kumite Artinya berpasangan (seperti Kumi Embu = embu berpasangan). Shutai artinya diutamakan (seperti dalam Su Shu Ko Ju). Jadi secara keseluruhan, kumite Shutai dapat diartikan bahwa latihan berpasangan itu sangat penting/diutamakan. Sama halnya dengan karakteristik yang lain, Kumite Shutai ini juga mengajarkan keseimbangan.
    Tidak diragukan lagi, semua bela diri sudah pasti melatih orang untuk mempertahankan diri dari serangan lawan, tak terkecuali Shorinji Kempo. Dari sini jelas bahwa dalam berlatih kita memerlukan “lawan” yang akan menyerang kita. Tanpa adanya serangan, tidak akan ada serangan balasan. Bahkan tidak akan ada serangan tanpa ada yang diserang. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa latihan kumite (sparing) sangat penting dalam berlatih bela diri, kecuali kalau yang kita pelajari adalah tarian.
    Bisa saja seseorang berlatih sendiri dengan mengandalkan buku pegangan atau dengan melihat video. Namun dengan kumite kita akan dapat berkembang lebih jauh lagi. Selain itu, banyak aspek dalam Shorinji Kempo yang hanya dapat dikuasai dengan berlatih berpasangan. Ma’ai (jarak), Kyo Jitsu (timing), Keimyaku No Ri (titik serangan), Sen (inisiatif), dan lain sebagainya.
    Dengan berlatih secara kumite (berpasangan) kita juga dapat membantu kawan kita untuk berkembang. Dari sini kita tahu bahwa Shorinji Kempo mengajari kita bekerja sama untuk berproses menjadi lebih baik secara teknik maupun secara mental. Dengan berlatih berpasangan, kita dapat saling memberitahu kekurangan masing-masing pasangan. Secara logika, kita tidak dapat melihat postur tubuh kita sendiri dengan benar. Dengan berlatih berpasangan kita dapat meminta sparing partner kita untuk memperhatikan postur tubuh kita. Apakah sudah benar atau masih ada kekurangan. Jadi jelas dalam falsafah Shorinji Kempo tidak ada kata egois.
    Satu hal yang menakjubkan dari prinsip Kumite Shutai ini. Kalau pasangan kita tidak bagus, kita juga tidak akan bagus atau kemajuan kita akan terbatas. Contohnya, kalau pasangan kita menendang dengan gerakan yang terlalu lambat, kita tidak akan pernah merasakan serangan yang cepat. Kalau serangan pasangan kita tidak tepat sasaran, kita tidak akan mengelak dengan sungguh-sungguh. Jadi kita mau tidak mau harus ikut memperbaiki kekurangan sparing partner kita kalau ingin menjadi lebih bagus.
    Konon, dalam mencetuskan prinsip Kumite Shutai ini, So Doshin terinspirasi oleh lukisan di kuil Shaolin ketika beliau masih di Cina. Dalam lukisan itu digambarkan biksu-biksu dari Cina sedang berlatih berpasangan dengan biksu-biksu dari India dengan wajah tersenyum. So Doshin berharap agar para kenshi dapat saling membantu dengan senang hati tanpa ada ganjalan seperti para biksu di lukisan tadi.
    Sebagai penutup, saya ingin sampaikan pendapat saya bahwa sebenarnya berlatih bela diri di zaman sekarang sudah kurang relevan, di mana membunuh dapat dilakukan dari jarak ribuan mil. Kita tidak akan menangkis rudal dengan uwa uke bukan? Atau melawan seseorang bersenjata api yang berjarak 100 meter dari kita dengan jodan tsuki? Jadi yang paling penting dalam berlatih Shorinji Kempo adalah memahami nilai-nilai yang ada dalam ajaran kempo maupun teknik-tekniknya, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan. Sungguh banyak nilai-nilai yang kita dapati dalam Shorinji Kempo kalau kita mau merenung dan memperhatikan. Namun sayang sekali, saya pribadi jarang menemui kenshi yang demikian di Indonesia. Akan sangat menyenangkan tentunya bila suatu saat kita dapat bertemu untuk berdiskusi tentang ajaran Shorinji Kempo baik yang terkandung dalam falsafah maupun gerakannya.
    Suatu saat…
    (part_6)_Go Ju Ittai
    Karakteristik terakhir dari Shorinji Kempo adalah Go Ju Ittai. Secara bahasa, Go berarti keras (Goho = teknik keras), Ju berarti lunak atau lembut (Juho = teknik lunak), Ittai berasal dari kata Ichi yang artinya satu. Kembali lagi, karakteristik ini mengajarkan keseimbangan. Dalam berlatih kempo kita menemui adanya teknik keras dan lunak (goho dan juho). Keduanya tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Saya pernah mendapatkan kata-kata “kelembutan mematahkan kekerasan, kekerasan memecahkan kelembutan.” Pernah juga saya dapatkan bahwa goho dan juho ibarat gigi dan bibir. Keduanya bersinergi sehingga memungkinkan seseorang untuk makan. Bibir memegang makanan sedangkan gigi menghancurkannya. Ketiadaan salah satu dari dua aspek tersebut akan berakibat pada tidak efisiennya proses makan. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa keduanya tidak hanya saling berlawanan tapi juga saling melengkapi.
    Karakteristik ini didasari oleh fakta bahwa di dunia ini sangat banyak teknik bela diri dengan berbagai karakteristik gerakan yang bermacam-macam. Untuk mengakomodasi hal ini maka Shorinji Kempo menuntut para kenshi untuk menguasai berbagai macam jenis teknik. Sangat tidak dianjurkan bagi kita (bahkan dilarang) untuk menekankan latihan pada kekuatan kaki saja atau tangan saja, goho saja atau juho saja. Hal ini supaya kita bisa mengantisipasi berbagai macam serangan dengan berbagai macam cara dan membalasnya dengan berbagai macam serangan balasan juga. Konon, So Doshin pernah mengatakan, “Kita tidak perlu menciptakan orang kuat, tapi kita menciptakan orang yang tidak pernah kalah.”
    Ketika berlatih, aplikasinya tampak dalam bermain Embu dimana dalam penyusunannya harus seimbang antara goho dan juho. Lebih detil lagi, kita akan dapati bahwa setiap teknik juho, selalu mengandung unsur goho. Sebaliknya, setiap teknik goho, selalu mengandung unsur juho. Contohnya, sejauh yang saya ketahui, semua teknik juho selalu diawali dengan atemi berupa me uchi, tsuki, atau keri. Dalam teknik-teknik nuki (melepaskan), kita melepaskan tenaga yang setara dengan tenaga yang dilepaskan dalam teknik goho. Sebaliknya, teknik goho membutuhkan kelenturan dan kelentingan (yang identik dengan lunak/juho) untuk mencapai efisiensi tenaga yang optimal.
    Secara filosofis, saya tidak mendapatkan banyak referensi mengenai go ju ittai. Tapi secara pribadi saya berkesimpulan bahwa kita sebagai kenshi dituntut untuk fleksibel dalam menghadapi berbagai permasalahan dan dapat mengatasinya dengan berbagai alternatif. Dengan demikian, bila kita tidak berhasil dengan satu cara, kita dapat mencoba lagi dengan cara lain. Jadi jangan terpaku pada satu cara saja.
    Go ju ittai adalah salah satu kelebihan Shorinji Kempo dibanding bela diri lain. Namun, karakteristik ini memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Dengan tuntutan yang demikian tinggi, kenshi harus bersungguh-sungguh dalam berlatih teknik dan harus benar-benar memahami metode dan prinsip-prinsip yang mendasari suatu gerakan. Jadi, seorang kenshi harus mengetahui betul apa yang dia kerjakan. Tidak hanya menghafal gerakan.
    Kesimpulannya, kita sebagai kenshi harus tekun mempelajari dan mempraktekkan. Semua itu hanya bisa dicapai dengan intelektualitas yang tinggi, ketekunan, dan keuletan. Sehingga kita sebagai kenshi dapat menjadi manusia seutuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: